Sabtu, 05 Mei 2012

cerpen tema persahabatan


Cerpen
Burung Kertas
          “Jangan lupa, sering telpon-telpon aku loh kak!” ucap seorang gadis—Grenda—
          “Iya, iya ah bawel banget sih lo dek!” jawab gadis yang—lebih tua darinya—satunya lagi.
          “Sudah sudah! Bawaan nya sudah lengkap semua kan Dien?” tanya ibu mereka.
          “Sudah bun! Udah deh ah. Bunda tuh nanyain itu berkali kali!” jawab Nadien—kakak Grenda—dengan kesal.
          Kemudian Pak Ujang—supir pribadi mereka—tiba-tiba datang menghampiri mereka. “Maaf Non”
          “Eh Pak Ujang. Ada apa Pak?” tanya Andien heran.
          “Ini ada yang tertinggal. Boneka nya Non” ucap Pak Ujang, sambil memberikan boneka yang di bawanya sedari tadi ke pemilik aslinya.
          “Oiya..!!! makasih ya Pak!” ucapnya girang.

          Bandara. Bandara merupakan tempat bertemu nya seseorang atau juga tempat berpisah nya seseorang selamanya atau berhari-hari, berbulan-bulan, bisa juga bertahun-tahun. Seperti yang dilakukan Grenda dan keluarga nya siang ini. Andien akan meninggalkan keluarganya untuk sementara—mungkin hanya 3thn—karena akan berkuliahdi Amerika. Dia mengambil juruasan Broadcast, hanya demi menggapai cita-citanya. Sutradara.

          “Udah siap? Yuk berangkat. Pesawatnya udah mau berangakat tuh!” jawab seorang lelaki bertubuh jangkung dan memakai kacamata. Dika.
          “Tante titip Andien ya nak Dika. Kalo dia bandel atau kuliah nya nggak bener, kasih tau tante ya!” pesan bunda.
          “Jangan pacaran terus!” cerocos Grenda.
          “Ih, bunda sama Grenda apaan sih?” ucap Andien dengan nada jengkel.

          Andien pun berpamitan, sama hal nya dengan Dika. Setelah Andien berpelukan dan disertakan ciuman yang mendarat di dahi sang bunda, Andien dan Dika pun meninggalkan bunda dan adiknya tersebut.
__________________________________________________________________________________

“Bun, kebelet pipis” 
“Yasudah, jangan lama-lama”.

  Grendapun segera menganggukan kepalanya dan langsung berlari ke kamar kecil.
__________________________________________________________________________________

  Bruk! “Aduh”. Grenda pun sukses menabrak seorang gadis berambut hitam.
          “Eh, adih maaf ya! Aku ngga sengaja. Ga apa-apa kan?” tanya Grenda dengan tatapan watir.
          “Ha? Oh engga kok. Engga apa-apa”
         
          Grendapun lansung membantu gadis tersebut untuk berdiri. Gadis ini sebaya dengan Grenda. Dia cantik tetapi dia memiliki kekurangan. Kakinya sepertinya cacat. Dia memakai tongkat, kakinya pun di gips.

“Thanks.” Ucapnya malu-malu sambil meninggalkan Grenda yang disertai dengan senyuman.        
__________________________________________________________________________________  
Setelah kepergian Kak Andien, sepertinya akhir-akhir ini Grenda banyak diam dan setiap pulang sekolah Grenda selalu bermain di taman komplek.
          Seperti biasa hari sabtu siang sepulang sekolah Grenda selalu bermain ke taman komplek. Apalagi kalau bukan kerjaannya duduk di atas ayunan sambil melamun. Melihat langit biru yang ditemani dengan awan putih, melihat anak kecil berlarian kesana kemari, melihat aktivitas manusia yang berada di sekitar taman tersebut dan tentu saja memikirkan kakaknya.
          Setelah melamun cukup lama, tatapannya terhenti, matanya tertuju pada suatu benda yang berada di sebelah ayunannya. Ia melihat sebuah burung kertas, burung kertas yang sering ia buat. Ia mengambilnya lalu membuka lipatan burung kertas itu. Sepertinya ia ingin mengingat kembali cara membuat mainan itu.

                   Tuhan, Hidup ini terlalu indah. 
                   Aku ingin lebih lama di dunia ini.
  
  Ada dua baris kalimat. Sepertinya burung ini sengaja dibuat oleh seseorang. Itu terlihat dari tulisan tangan manusia. Tapi siapa? Apakah orang itu mempunyai masalah yang cukup serius?. Dimasukkannya burung kertas itu ke dalam saku, lalu bergegas pulang. 
________________________________________________________________________________
Grenda terpaku dia melihat benda yang ia lihat waktu kemarin, burung kertas. Ia pun segera membuka lipatannya.

                   Kuatkan diriku Tuhan...
                   Ini bukan akhir dari segalanya kan?
                   Mungkin hidup ini terlalu singkat

          Hati Grenda bergetar membacanya, kasian sekali pembuat burung kertas ini. Apakah dia mempunyai masalah sampai sampai pasrah seperti ini? Grenda pun penasaran dengan burung kertas tersebut.
________________________________________________________________________________
Satu minggu terakhir ini, Grenda selalu menunggu datangnya burung kertas itu. Dan isinya selalu membuat Grenda tidak tega untuk membacanya. Tapi Grenda kali ini cukup senang, sepertinya orang itu sedikit bahagia. Contohnya seperti isi burung kertas keenam.

                   Dia membaca hatiku
                   Mungkin dia peduli denganku.

Dan burung kertas ketujuh

                   Aku akan bertemunya besok.
                   Mungkin kita bisa berteman  :)
Grenda agak bingung membaca burung kertas keenam dan ketujuh. Apakah kata ’nya’ dan ‘dia’ di kertas itu diperuntukkan untuk Grenda, atau orang lain.
__________________________________________________________________________________
Trem berhenti tepat di taman komplek. Grenda menuruni tangga trem dengan tergesa-gesa. Grenda melihat kearah ayunan. Disana terdapat burung kertas lagi. Grenda membukannya dengan jantung berdegup kencang. Setelah membukanya dengan hati-hati, ternyata di dalam burung kertas tidak ada pesan kembali.
          “Kosong.” Kata Grenda pelan. Grenda merasa aneh, burung kertas sebelumnya masih menunjukkan bahwa penulis surat ini ingin menjadi temannya.
          “Hai,” kata seorang gadis yang ternyata telah berada di depannya. “Sebelumnya kita telah bertemu di bandara. Iya kan?” gadis itu duduk di ayunan samping Grenda.
          “I... iya.” Jawab Grenda. Gadis itu membalas jawaban Grenda dengan senyuman. “ nama ku Luna.” Gadis itu mengulurkan tangan.
          Grenda membalas uluran tangan Luna. “Grenda.” Tanpa sadar Grenda memperhatikan kaki Luna.
          “Cacat. Kecelakaan tahun lalu.” Kata Luna seperti mengerti tatapan mata Grenda.
          “oooh” jawab Grenda.
          “Mau bermain kartu bersamaku?” tanya Luna dengan tatapan 
           memohon.  
          “Boleh.” Jawab Grenda.
_________________________________________________________________________________
          “Boleh.” Jawab Grenda.
 
Dua minggu lamanya, mereka telah bermain bersama. Burung kertas telah menghilang sejak Luna datang. Beberapa kali Grenda memberikan lelucon. Luna juga sering membawa beberapa mainan yang ada di rumahnya. Seperti congklak, kartu dan alat musik biola. Luna sangat mahir bermain biola.
          Tetapi sebulan ini, Luna menghilang tanpa kabar. Grenda selalu menunggu Luna di ayunan taman komplek, tetapi tidak ada tanda-tanda Luna kembali. Sedangkan Grenda meminjam biola Luna. Grenda ingin mengembalikan biola Luna.
          Esoknya Grenda kembali ke taman komplek dengan harapan Luna menunggu di ayunan. Tetapi hanya ada burung kertas kembali. Grenda membukanya.

                   Alamat rumah
                   Eden Residence F 5 no 2

          Grenda membacanya. Perasaan bingung menghampirinya. Apakah ia harus ke alamat rumah ini? Segitu buruknya si penulis surat? Grenda memutuskan pergi esok hari.
_______________________________________________________________________________

 
Grenda melangkahkan kakinya dengan cepat. Apakah penulis ini membutuhkan bantuannya kemarin? Hati Grenda kacau saat ini. Kalau penulis ini membutuhkannya kemarin, Grenda akan amat bersalah.
          Sampailah Grenda di alamat yang ditujukan surat. Rumahnya megah—sangat rapih dan bersih--. Grenda memencet bel. Pintu rumah terbuka beberapa menit kemudian. Seorang ibu—berwajah cantik—membuka pintu. “Ya. Siapa?” tanya ibu itu.
          Grenda menunjukkan burung kertas yang telah disimpannya kemarin. “Saya Grenda. Beberapa akhir ini saya menemukan burung kertas.” Kata Grenda seadanya. Ibu itu mengajak Grenda keluar rumahnya.   
_________________________________________________________________________________

Di perjalan.
“Namamu sangat cantik,” kata ibu melihat Grenda. “Tante bernama Ellen.”
“oooh.. Tante Ellen.” Ucap Grenda. Grenda dengan cepat mengetahui arah jalannya. TPU Deathmarch. “Tante bukannya ini jalan ke ...”
“TPU Deathmarch.” Tante Ellen memotong pembicaraan Grenda. “Kamu akan tau sesaat lagi.”
Grenda menelusuri jalan setapak di TPU Deathmarch. Melewati beberapa batu nisan. Daun-daun berguguran tanpa arah. Tante Ellen berhenti di salah satu batu nisan.
“Kamu mencari Luna?” tanya Tante Ellen. Grenda merasa bingung. Apa-apaan ini?! Mengapa Tante Ellen tau Luna. “Itu Luna.” Tante Ellen menunjuk salah satu batu nisan.
Grenda baru sadar nama yang tertulis dibatu nisan adalah Luna. “L... Luna?” kata Grenda terbata-bata. “Tidak mungkin.”
“Ya, dia terkena penyakit kanker otak dan terpaksa dia harus homescooling. Ambilah burung kertas itu! Dan bacalah. Burung kertas itu selalu dibuat oleh Luna.” Tante Ellen menitikkan air mata.
Tak kuasa Grenda juga menangis. Dia mengambil burung kerta itu dan membacanya.

Terimakasih kepada engkau yang selalu menemaniku dan menjadi   
sahabatku.Sebelumnya aku minta maaf Grenda. Sebab aku pergi 
tanpa pamit kepadamu. Perpisahan ini terlalu cepat. Ya mungkin  Tuhan 
berkehendak lain. Terimalah    biolaku sebagai kenangan. Carilah sahabat 
sebanyak-banyak ya, kawan!
                                                                                                           
                                                                                                                        Luna

Grenda menangis dengan keras. Luna sahabat gelapnya—yang sangat ia sayangi—menyuruhnya mencari sahabat sebanyak-banyaknya? Ya akan kulakukan. Tapi tidak ada yang sebaik kamu, Luna!


Karya : Gue sama temen gue tercinteh ;))))

komentar nya ya ;)))