Cerpen
Burung Kertas
“Jangan
lupa, sering telpon-telpon aku loh kak!” ucap seorang gadis—Grenda—
“Iya,
iya ah bawel banget sih lo dek!” jawab gadis yang—lebih tua darinya—satunya
lagi.
“Sudah
sudah! Bawaan nya sudah lengkap semua kan Dien?” tanya ibu mereka.
“Sudah
bun! Udah deh ah. Bunda tuh nanyain itu berkali kali!” jawab Nadien—kakak
Grenda—dengan kesal.
Kemudian
Pak Ujang—supir pribadi mereka—tiba-tiba datang menghampiri mereka. “Maaf Non”
“Eh
Pak Ujang. Ada apa Pak?” tanya Andien heran.
“Ini
ada yang tertinggal. Boneka nya Non” ucap Pak Ujang, sambil memberikan boneka
yang di bawanya sedari tadi ke pemilik aslinya.
“Oiya..!!!
makasih ya Pak!” ucapnya girang.
Bandara.
Bandara merupakan tempat bertemu nya seseorang atau juga tempat berpisah nya
seseorang selamanya atau berhari-hari, berbulan-bulan, bisa juga
bertahun-tahun. Seperti yang dilakukan Grenda dan keluarga nya siang ini.
Andien akan meninggalkan keluarganya untuk sementara—mungkin hanya 3thn—karena
akan berkuliahdi Amerika. Dia mengambil juruasan Broadcast, hanya demi
menggapai cita-citanya. Sutradara.
“Udah
siap? Yuk berangkat. Pesawatnya udah mau berangakat tuh!” jawab seorang lelaki
bertubuh jangkung dan memakai kacamata. Dika.
“Tante
titip Andien ya nak Dika. Kalo dia bandel atau kuliah nya nggak bener, kasih
tau tante ya!” pesan bunda.
“Jangan
pacaran terus!” cerocos Grenda.
“Ih,
bunda sama Grenda apaan sih?” ucap Andien dengan nada jengkel.
Andien
pun berpamitan, sama hal nya dengan Dika. Setelah Andien berpelukan dan disertakan
ciuman yang mendarat di dahi sang bunda, Andien dan Dika pun meninggalkan bunda
dan adiknya tersebut.
__________________________________________________________________________________
“Bun, kebelet pipis”
“Yasudah,
jangan lama-lama”.
__________________________________________________________________________________
“Eh,
adih maaf ya! Aku ngga sengaja. Ga apa-apa kan?” tanya Grenda dengan tatapan
watir.
“Ha?
Oh engga kok. Engga apa-apa”
Grendapun
lansung membantu gadis tersebut untuk berdiri. Gadis ini sebaya dengan Grenda.
Dia cantik tetapi dia memiliki kekurangan. Kakinya sepertinya cacat. Dia
memakai tongkat, kakinya pun di gips.
__________________________________________________________________________________
Setelah kepergian Kak Andien, sepertinya
akhir-akhir ini Grenda banyak diam dan setiap pulang sekolah Grenda selalu
bermain di taman komplek.
Seperti
biasa hari sabtu siang sepulang sekolah Grenda selalu bermain ke taman komplek.
Apalagi kalau bukan kerjaannya duduk di atas ayunan sambil melamun. Melihat
langit biru yang ditemani dengan awan putih, melihat anak kecil berlarian
kesana kemari, melihat aktivitas manusia yang berada di sekitar taman tersebut
dan tentu saja memikirkan kakaknya.
Setelah
melamun cukup lama, tatapannya terhenti, matanya tertuju pada suatu benda yang
berada di sebelah ayunannya. Ia melihat sebuah burung kertas, burung kertas
yang sering ia buat. Ia mengambilnya lalu membuka lipatan burung kertas itu.
Sepertinya ia ingin mengingat kembali cara membuat mainan itu.
Tuhan,
Hidup ini terlalu indah.
Aku
ingin lebih lama di dunia ini.
Grenda terpaku dia melihat benda yang ia
lihat waktu kemarin, burung kertas. Ia pun segera membuka lipatannya.
Kuatkan
diriku Tuhan...
Ini
bukan akhir dari segalanya kan?
Mungkin
hidup ini terlalu singkat
Hati
Grenda bergetar membacanya, kasian sekali pembuat burung kertas ini. Apakah dia
mempunyai masalah sampai sampai pasrah seperti ini? Grenda pun penasaran dengan
burung kertas tersebut.
________________________________________________________________________________
Satu minggu terakhir ini, Grenda selalu
menunggu datangnya burung kertas itu. Dan isinya selalu membuat Grenda tidak
tega untuk membacanya. Tapi Grenda kali ini cukup senang, sepertinya orang itu
sedikit bahagia. Contohnya seperti isi burung kertas keenam.
Dia
membaca hatiku
Mungkin
dia peduli denganku.
Dan burung kertas ketujuh
Aku
akan bertemunya besok.
Mungkin
kita bisa berteman :)
Grenda agak bingung membaca burung kertas
keenam dan ketujuh. Apakah kata ’nya’ dan ‘dia’ di kertas itu diperuntukkan
untuk Grenda, atau orang lain.
__________________________________________________________________________________
Trem berhenti tepat di taman komplek.
Grenda menuruni tangga trem dengan tergesa-gesa. Grenda melihat kearah ayunan.
Disana terdapat burung kertas lagi. Grenda membukannya dengan jantung berdegup
kencang. Setelah membukanya dengan hati-hati, ternyata di dalam burung kertas
tidak ada pesan kembali.
“Kosong.”
Kata Grenda pelan. Grenda merasa aneh, burung kertas sebelumnya masih
menunjukkan bahwa penulis surat ini ingin menjadi temannya.
“Hai,”
kata seorang gadis yang ternyata telah berada di depannya. “Sebelumnya kita
telah bertemu di bandara. Iya kan?” gadis itu duduk di ayunan samping Grenda.
“I...
iya.” Jawab Grenda. Gadis itu membalas jawaban Grenda dengan senyuman. “ nama
ku Luna.” Gadis itu mengulurkan tangan.
Grenda
membalas uluran tangan Luna. “Grenda.” Tanpa sadar Grenda memperhatikan kaki
Luna.
“Cacat.
Kecelakaan tahun lalu.” Kata Luna seperti mengerti tatapan mata Grenda.
“oooh”
jawab Grenda.
“Mau
bermain kartu bersamaku?” tanya Luna dengan tatapan
memohon.
“Boleh.” Jawab Grenda.
_________________________________________________________________________________
Dua minggu lamanya, mereka telah bermain
bersama. Burung kertas telah menghilang sejak Luna datang. Beberapa kali Grenda
memberikan lelucon. Luna juga sering membawa beberapa mainan yang ada di
rumahnya. Seperti congklak, kartu dan alat musik biola. Luna sangat mahir
bermain biola.
Tetapi
sebulan ini, Luna menghilang tanpa kabar. Grenda selalu menunggu Luna di ayunan
taman komplek, tetapi tidak ada tanda-tanda Luna kembali. Sedangkan Grenda
meminjam biola Luna. Grenda ingin mengembalikan biola Luna.
Esoknya
Grenda kembali ke taman komplek dengan harapan Luna menunggu di ayunan. Tetapi
hanya ada burung kertas kembali. Grenda membukanya.
Alamat
rumah
Eden
Residence F 5 no 2
Grenda
membacanya. Perasaan bingung menghampirinya. Apakah ia harus ke alamat rumah
ini? Segitu buruknya si penulis surat? Grenda memutuskan pergi esok hari.
Grenda melangkahkan kakinya dengan cepat.
Apakah penulis ini membutuhkan bantuannya kemarin? Hati Grenda kacau saat ini.
Kalau penulis ini membutuhkannya kemarin, Grenda akan amat bersalah.
Sampailah
Grenda di alamat yang ditujukan surat. Rumahnya megah—sangat rapih dan
bersih--. Grenda memencet bel. Pintu rumah terbuka beberapa menit kemudian.
Seorang ibu—berwajah cantik—membuka pintu. “Ya. Siapa?” tanya ibu itu.
Grenda
menunjukkan burung kertas yang telah disimpannya kemarin. “Saya Grenda.
Beberapa akhir ini saya menemukan burung kertas.” Kata Grenda seadanya.
Ibu itu mengajak Grenda keluar rumahnya.
_________________________________________________________________________________
Di perjalan.
“Namamu sangat
cantik,” kata ibu melihat Grenda. “Tante bernama Ellen.”
“oooh.. Tante
Ellen.” Ucap Grenda. Grenda dengan cepat mengetahui arah jalannya. TPU
Deathmarch. “Tante bukannya ini jalan ke ...”
“TPU Deathmarch.”
Tante Ellen memotong pembicaraan Grenda. “Kamu akan tau sesaat lagi.”
Grenda menelusuri
jalan setapak di TPU Deathmarch. Melewati beberapa batu nisan. Daun-daun
berguguran tanpa arah. Tante Ellen berhenti di salah satu batu nisan.
“Kamu mencari
Luna?” tanya Tante Ellen. Grenda merasa bingung. Apa-apaan ini?! Mengapa Tante Ellen
tau Luna. “Itu Luna.” Tante Ellen menunjuk salah satu batu nisan.
Grenda baru sadar
nama yang tertulis dibatu nisan adalah Luna. “L... Luna?” kata Grenda
terbata-bata. “Tidak mungkin.”
“Ya, dia terkena
penyakit kanker otak dan terpaksa dia harus homescooling. Ambilah burung kertas
itu! Dan bacalah. Burung kertas itu selalu dibuat oleh Luna.” Tante Ellen
menitikkan air mata.
Tak kuasa Grenda
juga menangis. Dia mengambil burung kerta itu dan membacanya.
Terimakasih kepada
engkau yang selalu menemaniku dan menjadi
sahabatku.Sebelumnya
aku minta maaf Grenda. Sebab aku pergi
tanpa pamit kepadamu. Perpisahan ini terlalu cepat. Ya
mungkin Tuhan
berkehendak lain.
Terimalah biolaku sebagai kenangan. Carilah sahabat
sebanyak-banyak ya,
kawan!
Luna
Grenda menangis
dengan keras. Luna sahabat gelapnya—yang sangat ia sayangi—menyuruhnya mencari
sahabat sebanyak-banyaknya? Ya akan kulakukan. Tapi tidak ada yang sebaik kamu,
Luna!
Karya : Gue sama temen gue tercinteh ;))))
komentar nya ya ;)))